Menu Close

Menyuarakan Warisan Alam Indonesia Untuk Kelestarian Dunia

Sehingga untuk mendapatkan potensi alam seperti air terjun, tidak sulit di temukan di daerah tersebut, dengan kesempatan ini, kru pattae.com pun Berekspedisi ke Wisata Alam Sarambu Tai Bai Marende Desa Kaleok. Ajeng Nurtri Hidayati yang menjadi perempuan satu-satunya di tim MUIE menjelaskan, gunung Khuiten diakui sebagai gunung dengan akses yang sulit. Pengakuan tersebut disadur dari National Geographic, Ajeng lantas berharap bahwa pendakian ini menjadi pengalaman awal bagi penerus Malimpa nantinya. Tidak seperti seven summit yang sudah banyak dijamah orang, referensi dalam pendakian Gunung Khuiten belum banyak beredar. Sehingga, melalui pendakian ini juga diharapkan dapat membuka information baru bagi dunia pendakian Indonesia maupun internasional.

Bongkahan-bongkahan batu magma berwarna hitam dan berukuran besar bertebaran di sepanjang jalan. Kadang saya harus berpegangan pada bagian ujung mobil karena medan yang terlalu bumpy. Hingga akhirnya saya sampai ke kamp militer perbatasan Ethiopia dan Eritrea. Ini merupakan Slot Gacor titik awal trekking untuk melihat Erta Ale di atas. Malam itu, saya tidur di atas bale-bale berlapis sleeping bag – yang berhasil saya pinjam dari salah satu teman. Sangat sulit untuk menutup mata, terlebih saat suhu mencapai 36 derajat Celsius di malam hari.

berekspedisi

Penamaan air terjun ini beda lagi dengan dinas kehutanan Polewali Mandar dimana air terjun tersebut dinamainya sebagai air terjun kembar, sesuai dengan bentuknya yang terlihat, terdapat dua air terjun yang berdekatan. Air terjun Tai Bai sebenarnya memiliki cerita mitos yang di percaya oleh masyarakat setempat, dan juga merupakan asal muasal kenapa di sebut sebagai sarambu Tai Bai . Dilansir dari laman maritim.go.id, peserta ENJ Kelompok Mahasiswa menggunakan Kapal Perintis dan diperuntukkan 1000 mahasiswa dari perguruan tinggi seluruh Indonesia. Disebutkan pula kegiatan ini untuk mengenalkan potensi budaya dan pariwisata Indonesia, menggali potensi pribadi, melatih kepemimpinan, melatih kepedulian sosial, peningkatan bela negara, dan peningkatan kecintaan terhadap NKRI. Pada akhir 2014 yang lalu, Malimpa sudah memupuk mimpi untuk menaklukkan salah satu puncak tertinggi di dunia, Gunung Elbrus di Rusia. Karena upaya yang bertemu kendala, akhirnya dengan terpaksa mimpi tersebut gugur di tengah masa.

Saya kerap terbangun tiba-tiba, dan mendapati baju saya sudah penuh dengan peluh. Berniat untuk memejamkan mata lagi, tapi saya kehabisan kata dengan taburan bintang yang menghiasi langit Dallol malam itu. Saya bertemu dengan Abebe, seorang penggali garam yang bekerja di Afar.

Kami butuh bantuan akang-teteh saudaraku semuanya, baik dalam bentuk moral maupun material. Serta mohon doanya semoga ekspedisi yang kami lakukan ini berjalan dengan lancar dan mampu memberikan sumbangsih bagi Nusa dan Bangsa. Hasil dari perjalanan ekspedisi ini akan kami publikasikan dalam bentuk klaporan ekspedisi, foto dan video dokumenter, pameran, dan pembuatan buku “Kompilasi Perjelajahan Tebing Karst Sangkulirang Mangkalihat”.

Segera setelah rapat kerja pengurus pada bulan Januari lalu, Malimpa membuka seleksi kandidat anggota pendakian. Melalui kawan dan kerabat, saran terus bermunculan, dari China hingga Rusia terdengar di telinga. Hingga pada akhirnya, ketika cakap bersahut dengan teman di Medan, Iqbal memperoleh nama Mongolia secara tiba-tiba.

Dibantu oleh mahasiswa dan mahasiswi aktif Prasmul, informasi mengenai sejarah kampus, proses pembelajaran, sampai kegiatan non-akademis tersampaikan secara sempurna dengan canda dan tawa. Berangkat dari drawback ini, Universitas Prasetiya Mulya menyelenggarakan the first ever Innovation Day pada tanggal 31 Juli – 4 Agustus 2018 kemarin. Yup, berlangsung selama lima hari penuh, Prasmul mengundang sixty two sekolah dari Jabodetabek ke kampus BSD. Di minggu yang spesial itu pula, lebih dari 5000 pelajar SMA membanjiri gedung-gedung ikonis Universitas Prasetiya Mulya untuk melihat pilihan inovasi karier yang terbuka luas bagi mereka. Puas menonon lava pijar, kami tidak langsung turun ke kamp militer.

Bahkan mereka perlu menunggangi onta dan kuda untuk mencapai basecamp. Prof. Djoko memiliki harapan untuk generasi mendatang agar menjadi penerus dalam menemukan identitas Indonesia, yaitu keanekaragaman hayati yang negara ini miliki. “Nomor satu, yang selalu saya tekankan adalah, bekerjalah dengan keanekaragaman Indonesia. Ada a hundred orang seperti saya pun tidak akan menyelesaikan problema katak saja.